Tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada mengecewakan orang yang kita cintai. Tidak ada.
Tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada menghancurkan harapan orang yang kita cintai. Tidak ada.
Untuk Papa. Untuk Mama. Aku minta maaf atas hal-hal itu. Aku memang bodoh. Dan kebodohan itu membuatku terlihat seperti anak yang tak berguna. Dan di sini, aku hanya bisa terduduk lesu di hadapmu. Merasakan kekecewaanmu yang mendalam terhadapku. Ma, apa kamu tahu yang ku rasakan? Aku merasa hancur atas murkamu yang menghakimiku. Aku bersalah. Aku pantas di hukum. Aku menyesal, tapi aku tak ingin terlarut di dalamnya. Aku ingin belajar dari itu!
Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf.
Cukupkah? Lalu apa yang bisa ku lakukan Ma, Pa? Aku mencoba merajut kembali semua yang telah hancur. Aku takut, Ma, Pa. Aku takut. Bisa kah kau redakan amarahmu sebentar saja? Izinkan aku mengeringkan air mataku sejenak. Berikan aku pelukan itu, Ma. Dan bisakah tak kau hiraukan orang-orang yang mulai mencemoohku? Izinkan aku mencari kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Izinkan aku mencari celah itu. Aku akan berteman dengan waktu dan memperbaiki kesalahanku. Aku akan membayar kesalahanku, Ma, Pa. Aku janji tak akan mengulangi itu, aku berjanji pada diriku sendiri. Agar saat kecewa datang, biar aku yang merasakannya sendiri, bukan Mama Papa.
Mama Papa masih menyayangiku kan? Aku... tak pernah berhenti mencintai dan menyayangi Mama Papa.
Senin, 29 Desember 2014
Langganan:
Komentar (Atom)