Sabtu, 07 November 2015

tentang seorang tamu

Buruh Ketik -ned- tanggal Sabtu, November 07, 2015
seorang lelaki datang mengetuk pintu
ah... sebaiknya ku buka sedikit saja dulu
aku hanya mengintip dari baliknya
ku lihat tangan lelaki itu mengepal seolah menggenggam sesuatu
katanya itu adalah sebuah genggaman atas nama cinta
si lelaki menawarkannya padaku walaupun aku masih bersembunyi
aku belum juga membuka pintu
aku hanya tidak ingin orang asing memasukinya begitu saja
aku bukan persinggahan bagi mereka yang lelah mencari
datang dan pergi sesuka hati, bahkan tanpa sadar telah meninggalkan jejak di sini
jangankan jejak, luka pun mereka tancapkan pada tepi halaman

ku tanya pada si lelaki, "apa yang kau mau?"
"aku hanya menawarkan apa yang ada dalam genggamanku"
"segenggam? itukah yang kau tawarkan?"
"walau segenggam tetapi ini sungguh berarti. kau tidak akan tahu jika tidak mencobanya. jika suatu saat nanti kau menjadi serakah karena segenggam ini, aku akan memberikannya padamu seterusnya. segenggam demi segenggam, ibarat menyiram bibit yang suatu saat mejadi pohon yang teduh untukmu berlindung."
"begitukah?"
"ya."
"lalu apakah kau datang karena lelah menawarkannya pada pintu-pintu yang lain lalu datang padaku?"
"tidak! tidak semua pintu ku ketuk. sudah ku bilang, segenggam ini teramat berharga. aku hanya merasa pintu ini adalah pintu yang pantas untuk kuketuk."
"tapi aku tidak menginginkannya."
"cobalah. aku bersikeras menawarkannya padamu."
"tidak! aku tidak menerima tamu."
"mengapa?"
"aku sudah cukup banyak menderita karena para tamu!"
"bukalah, aku akan menjadi tamu yang baik. bahkan kalau kau izinkan aku ingin tinggal, aku bersedia tinggal selamanya"
"tidak."
"baiklah, aku menunggumu."
"untuk apa kau menunggu?"
"untukmu. aku bersedia menunggu. aku tahu kau sudah membuka pintu walau hanya untuk mengintip. aku akan menunggu sampai rantai dan gembokmu benar-benar bisa terbuka."
"baiklah, tunggulah sampai lelah. tapi aku tidak akah bertanggungjawab atas lelahmu itu."
"baiklah, tetaplah di sana, di balik pintu, aku akan tetap di sini dengan genggaman ini."
ah, harus ku katakan apalagi agar ia pergi
aku seperti seorang pengecut yang hanya berani mengintip dari balik pintu
tapi aku tak bisa beringsut karena aku tetap ingin tahu
apakah ia akan benar menunggu. untukku...

0 Reaksi Pembaca:

Posting Komentar

 

2009 Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea