Selasa, 30 Juli 2013

Kado Hari Ini

Buruh Ketik -ned- tanggal Selasa, Juli 30, 2013 0 Reaksi Pembaca
Hari ini Subhanallah banget. Luar biasa. Entah apa yang Allah rencanakan di setiap hariku seperti kado yang harus dibuka dan aku suka kado Allah hari ini.
Ini doaku sejak lama. Doa yang terdengar simple, hanya berharap aku bertemu dia (baca: mas yang nggak perlu disebut namanya) dengan tidak sengaja di jalan.  Yes! dan akhirnya terkabul, aku bertemu dengannya dengan tidak sengaja di jalan. Ini tepat tanggal 29 di bulan Juli tahun 2013. Iya dua sembilan. Aku mulai menyadari sejak di lampu merah pas mau pulang sampai ada razia kelengkapan surat kendaraan, bahkan ketika sampai di rumah. Meski helm merah itu yang membuatmu berbeda.
Aku mengenali celananya. Aku mengenali jam tangannya. Aku mengenali gaya bermotornya, bahkan aku juga mengenali alis tebalnya meskipun sebagian wajahnya tertutup slayer orange dan helm. Aku mengenalinya. Tapi aku sadar dia berpura-pura tak mengenaliku, tak melihatku seolah-olah aku hanyalah orang asing yang kebetulan lewat pada jalur yang sama.
Aku tahu tahu aku memang bukan seseorang yang pantas diperjuangkan olehnya lagi.
Aku tahu aku nggak cukup baik, aku nggak cukup sempurna untukmu. Kenyataan seperti ini rasanya sudah menamparku sangat keras. Sakit.
Aku tahu kita tak seakrab dulu lagi dan bahkan sulit untuk memperbaikinya agar seperti dulu lagi. Jurang yang kita (entah aku atau kamu) buat ternyata cukup curam.
Aku tahu (kita) hanyalah kenangan yang mungkin tak perlu lagi di kenang.
Mengapa takdir belum (atau tak sama sekali?) menyatukan kita?
Aku malu dengan ini. Aku seperti pengemis, ya kan?
Terima kasih. Aku bahagia.

Rabu, 17 Juli 2013

Membebaskan Perasaan

Buruh Ketik -ned- tanggal Rabu, Juli 17, 2013 0 Reaksi Pembaca

Kepada kamu, imaji dalam anganku...
Selamat pagi, selamat siang, selamat malam, atau entah kapanpun kamu mulai membaca surat ini (atau tidak sama sekali). Anggap saja aku sedang menyapamu ketika kamu sedang membaca surat ini.
Aku bingung mau mulai dari mana menjelaskan tujuan surat ini. Tapi aku akan mencobanya. Aku harus menjelaskan semua yang selama ini aku pendam.
Aku nggak ngerti bagaimana cinta, sebuah kata benda, bekerja pada otakku, melampaui akal sehat. Perasaan yang tidak dapat di ungkapkan secara logis, karena perasaan adalah perasaan. Memendam perasaan tuh sama sekali nggak enak. Makanya aku coba mengungkapkan perasaanku dengan cara yang menurutku kamu bisa mengerti.

Senin, 15 Juli 2013

SAMPAAAHHH!!

Buruh Ketik -ned- tanggal Senin, Juli 15, 2013 0 Reaksi Pembaca
"Aku emang nggak terkenal, kerjaannya dirumah terus nggak pernah keluar. Aku cuma mau kenal sama orang mau kenal sama aku."
Terserah mau dibilang nggak sosial atau gimana, aku nggak peduli. Aku juga nggak ngerti sosial yang dimaksud itu sosial yg seperti apa! INGET kata-kataku: Aku cuma mau kenal sama orang mau kenal sama aku.
Aku nggak bermaksud merasa paling benar, apalagi merasa paling tersakiti. Menurutku, nggak ada yang perlu dipersalahkan atas kondisi kita yang sekarang ini. Tapi kalo mau nyalahin aku, aku terima. Aku cuma nggak akan memaksakan sesuatu sama orang lain kalo emang mereka nggak sepemahaman dan nggak mau menerima apa yang aku ungkapkan. Aku gitu karena aku juga nggak suka dipaksa! Hai Ego, kalau kamu merasa paling utama, kamu benar, tapi lihatlah temanmu yang lain, perasaan.
Aku cuma nggak pengin terlalu lemah, berfikir cuma pake hati tanpa logika, dalam suatu hubungan yang... you know that lah. Aku nggak pengin seperti itu... Sesuatu yang seolah-olah nggak nampak, yang selali ku abaikan, mulai terlihat jelas dalam 'kacamata'ku. Sekarang, aku nggak bisa membuatnya semua ini seolah-olah nggak keliatan. One by one the problems.... Yaahhh mulai bermunculan. Kadang aku nggak tahu harus bersikap bagaimana, aku nggak tahu harus berbicara gimana, dan aku bingung apa yang harus kulakukan dalam menghadapi kondisi seperti ini. Aku belum pernah berada dalam kondisi yang rumit seperti ini. Kadang aku juga nggak pernah ngerti sama perasaanku sendiri. Tapi yang aku ngerti, aku dituntut dewasa dalam setiap kondisi. Cukup naif dan sedikit kolot. Ya, mungkin aku emang naif dan kolot. Aku perlu berfikir banyak dan sebenernya aku males kalo harus mikir 'bagaimana caranya'. Pikiran-pikiran yang muncul semua seperti SAMPAH yang semakin menumpuk. Aku pengin semua ini cepet selese! SAAAMMMPAAAHHH!!
 

2009 Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea