Ini doaku sejak lama. Doa yang terdengar simple, hanya berharap aku bertemu dia (baca: mas yang nggak perlu disebut namanya) dengan tidak sengaja di jalan. Yes! dan akhirnya terkabul, aku bertemu dengannya dengan tidak sengaja di jalan. Ini tepat tanggal 29 di bulan Juli tahun 2013. Iya dua sembilan. Aku mulai menyadari sejak di lampu merah pas mau pulang sampai ada razia kelengkapan surat kendaraan, bahkan ketika sampai di rumah. Meski helm merah itu yang membuatmu berbeda.
Aku mengenali celananya. Aku mengenali jam tangannya. Aku mengenali gaya bermotornya, bahkan aku juga mengenali alis tebalnya meskipun sebagian wajahnya tertutup slayer orange dan helm. Aku mengenalinya. Tapi aku sadar dia berpura-pura tak mengenaliku, tak melihatku seolah-olah aku hanyalah orang asing yang kebetulan lewat pada jalur yang sama.
Aku tahu tahu aku memang bukan seseorang yang pantas diperjuangkan olehnya lagi.
Aku
tahu aku nggak cukup baik, aku nggak cukup sempurna untukmu. Kenyataan
seperti ini rasanya sudah menamparku sangat keras. Sakit.
Aku
tahu kita tak seakrab dulu lagi dan bahkan sulit untuk memperbaikinya
agar seperti dulu lagi. Jurang yang kita (entah aku atau kamu) buat
ternyata cukup curam.
Aku tahu (kita) hanyalah kenangan yang mungkin tak perlu lagi di kenang.
Mengapa takdir belum (atau tak sama sekali?) menyatukan kita? Aku malu dengan ini. Aku seperti pengemis, ya kan?
Terima kasih. Aku bahagia.