Subarta. Sosok lelaki yang misterius. Ia tak dengan
mudah membuka hatinya. Seperti terkunci rapat dengan gembok sihir yang kuncinya
hilang ke suatu tempat antah berantah. Mungkin dia hanyalah seorang agen
rahasia. Yap, dia adalah agen rahasia. Tapi entah magic apa yang terjadi, dia adalah satu
sosok laki-laki yang mampu menghangatkan hati yang dingin.
Secara visual, dia memang tidak begitu tampan. Dia
memiliki alis yang tebal, setebal tekad dalam hatinya. Rahang maskulin itu kuat
menggambarkan sikap keras yang lunak. Saat senyum manisnya mengembang, mata
saya tak akan lepas darinya. Seolah ada sesuatu yang melekatkan mata ini
memandang wajah tanda tanya itu. Tetapi matanya yang gamblang menyiratkan sebuah kerahasiaan hati. Rambutnya ikal. Tangannya kekar, begitu kuat saat
menggenggam tangan yang lebih mungil. Dia memiliki dada dan pundak yang keras
namun mampu mengeluarkan kenyamanan saat menyandarkan segala beban. Badannya
tinggi sedang, rata-rata tinggi laki-laki Indonesia. Kulitnya coklat, dan
justru itu yang menggoda.
Subarta, sosok itu jarang mengeluh dengan hidupnya,
hanya sesekali lelah dengan penat dengan pahit getir yang tak jarang
dilaluinya. Ia tipe orang yang berjiwa besar, meski penyesalan tak terhindar
untuk datang. Ketika kecewa datang, botol-botol memabukkan berserakan. Asap
kekecewaan mengepul tebal di sebatang pucuk rokok yang menyala merah. Tak
jarang lembaran marijuana pun ikut serta merayakan kegundahannya. Saat kecewa
ia pergi dalam gelap, membawa dirinya lenyap kesana. Subarta pergi bersama asap
kekecewaannya, menghilang diantara bisingnya perang malaikat dan setan.
Mungkin saya tak akan egois dengan perasaan saya
pada yang lain, namun untuk Subarta, saya akan amat sangat egois. Saya tak
ingin ada orang lain yang bisa mengertinya selain saya. Saya tak ingin ada
orang lain yang lebih mengenalnya selain saya. Sebab, ia milik saya dan saya
tak akan melepaskannya. Tapi sekali lagi saya tegaskan, Subarta adalah sosok
misterius. Ya, ia memang misterius, saking misteriusnya saya terkadang kewalahan membaca sikapnya. Hebatnya, sosok Subarta yang misterius mampu menyita sebagian waktu
saya, bahkan sampai menghasut hati saya. Mungkin dalam paragraf ini hanyalah
penggambaran dari kacamata saya yang sedikit meracau. Maaf.
0 Reaksi Pembaca:
Posting Komentar