Penggalan kisah lain Subarta
Saya bertemu dengannya! Dengan Subarta! Dan ia memanggil saya! Tapi, mengapa ia seolah lupa nama saya? Ah, itu tidaklah terlalu penting. Saya sudah merasa sejak lama bahwa ia memang sudah amnesia tentang saya. Saya hanyalah kepingan kisah di masa lalunya. Tapi kali ini sungguh keajaiban! Ia menyebut nama saya dan meminta nomer ponsel saya. Saya pun pulang dan tertidur pulas di kursi ruang tamu depan. Saya tertidur lelap sekali hingga saya tak mendengar ponsel saya berbunyi. Whup! Seseorang membuat saya terkejut dan saya bangun dari tidur. Saya langsung cek ponsel saya. Whoah! Ada beberapa missed call dan pesan. Itu semua dari Subarta! Ada apa gerangan ia menghubungi saya secepat ini setelah ia mendapatkan nomor ponsel saya? Jangan-jangan ada yang ingin disampaikan. Saya menyesal tidur terlalu pulas dan mengabaikan panggilan darinya.
Lain waktu setelah itu saya bertemu dengan Subarta lagi. Ini aneh, seolah-olah takdir ingin menyatukan kita kembali. Saya bahagia. Jikalau nanti saya dan Subarta kembali menulis kisah bersama, saya berjanji tak akan lagi melepasnya. Saya berjanji akan selalu menjaga hati saya dan hatinya. Saya berjanj..... Oh, sudahlah jangan terlalu banyak janji. Itu semua belum tentu terealisasi.
Bertemu, tidak ada dialog karena ini hanyalah sebuah prolog. Di dalam ruangan dengan sofa merah itu kita duduk. Diam, tetapi hati mungkin sedang bercakap ria. Hingga sampai pada obrolan yang tidak kusangka. Ia menanyakan pekerjaan orang tua saya beserta gaji tiap bulannya. Obrolan macam apa ini? Tak seperti yang saya harapkan. Mengapa tiba-tiba ia bertanya tentang profesi kedua orang tua saya? Apa sekarang Subarta sudah bukan Agen Rahasia yang seperti dulu lagi? Oh, atau mungkin saja ia sedang membandingkan pangkat orang tua saya dengan pangkat gadis bekas cintanya dulu itu! Cih! Cemburu sudah! Saya diam. Subarta pergi ke kamar.
Baiklah kalau begitu saya akan mencari tahunya sendiri selagi ia masih di kamar. Saya buka ponselnya. Siapa tahu ada petunjuk untuk menjawab kegundahan hati saya. Saya membuka laci tempat ia menyimpan barang-barang kesayangannya. Oh! Tepat sekali! Ada foto gadis bekas cintanya itu! Cih! Saya benar-benar cemburu. Semua rasa cinta di hati saya mendadak luntur berubah menjadi rasa marah. Saya kembalikan barang-barang itu ke tempat semula. Subarta datang. Ia tahu dan berusaha menenangkan. Ia genggam tangan saya erat sekali. Rasa hangat perlahan mengalir. Kemarahan pun berubah wujud secara perlahan. Saya tahu, Subarta memang untuk saya miliki. Ia milik saya!
Wush! Subarta pergi. Kemana ia gerangan? Mata saya terbuka kembali. Oh, endingnya saya kecewa. Hati saya melengos, anjlok seketika. Ternyata ia hanya beradegan dalam mimpi saya. Ini bukan yang pertama kalinya, ini sudah tak terhitung. Selalu begitu, tanpa permisi dan tanpa meminta izin apakah saya memperbolehkannya berdrama dalam mimpi saya. Membuat saya menjadi seperti putri tidur yang malas bangun jika sudah beradu akting dengannya. Saya ingin menyudahi, tapi ia yang enggan. Ia sangat asyik berakting di mimpi-mimpi saya. Saya tak bisa melawan. Karena di alam nyata saya tak bisa melakukan kesenangan romansa cinta dengannya, bahkan menyentuhnya pun itu saya tak bisa. Apalagi untuk menjamah hatinya. Sungguh tak mungkin kali ini. Subarta telah bertugas kembali menjadi Agen Rahasia yang Super Rahasia.
0 Reaksi Pembaca:
Posting Komentar