Masa
putih biru adalah masa transisi kita menjadi remaja. Akan ada banyak rasa asam,
manis, bahkan pahit ketika kita berada dalam masa tersebut. Akan ada banyak
cerita tentang teman dan persahabatan disana. Tapi, kau tahu kan perbedaan
antara sekedar teman dan sahabat?Ya. Di masa itu aku pun merasakan dimana aku
memiliki seseorang yang ku sebut sahabat. Aku menganggap ia sebagai sahabatku.
Dan setahuku, ia juga menganggapku sebagai seorang sahabat.
Waktu
itu aku baru saja menjadi siswa Sekolah Menengah Pertama di sebuah sekolah
negeri kecamatan daerah. Sebagai seorang yang baru lulus SD, Sekolah Dasar yang
menurutku itu tingkat pendidikan paling bawah, aku senang sekali diterima di
SMP Negeri itu. Hari pertama ketika penyambutan siswa baru, kami berkenalan
ketika ada seseorang dari kelas sebelah pingsan. Sahabatku itu, menabrakku
tanpa sengaja karena dia terdorong anak kelas sebelah yang pingsan. Hahaha lucu
sekali kamu waktu itu. Rambutnya panjang dan agak di keriting. Satu yang khas
darimu: gigi gingsulmu. Cantik.
Banyak
hal yang kita lewatkan bersama. Banyak hal yang sering kamu bagi denganku.
Cerita tentang masa cinta-cintaanmu itu, apalagi tentang monyetmu itu (cinta
monyet, kan?). Cerita tentang first kissmu. Cerita tentang teman kita yang lain
itu (ngrasani?). Cerita tentang kita yang kadang males ikut les privat.
Meskipun saat kamu cerita, aku masih belum terlalu mengerti dan aku masih
merasa polos (hehe) aku selalu dengerin ceritamu kok. Dari dulu kamu memang
lebih dewasa dariku meskipun aku sebenarnya 5 bulan lebih tua darimu. Mungkin
itu sebabnya kamu memanggilku ‘nduk’. Terucap begitu saja, kan? Di masa itu
pula, aku rasa kamu lebih dewasa dari umurmu yang seharusnya. Itu bukan hal
yang aneh. Well, semua hal itu sekarang nggak bisa kan di ceritain satu-satu di
sini.
Hingga
saatnya kita beranjak menuju masa putih abu-abu. Sahabatku itu harus
melanjutkan sekolahnya di kota, sedangkan aku lebih baik di sekolah negeri di
kabupaten. Lagi-lagi masa transisi. Jarak. Satu-satunya alasan yang ku mengerti
kala itu. Dan aku benar, kan? 3 tahun di masa abu-abu kita sudah tak seperti
kala putih biru. Sahabat baru akan datang dan sahabat lama tinggal kenangan. Hingga
2 tahun setelah meninggalkan masa putih abu.
Hingga...
Seminggu yang lalu ia berulang tahun yang ke-20. Tapi aku melupakannya dan baru
ingat beberapa hari ini. Terlintas rasa menyesal. Aku lebih memilih untuk tidak
memberi ucapan ulang tahun padanya. Bodoh memang. Hingga muncul pertanyaan,
“masihkah kita menjadi dua sahabat?”. Entah, kita pun sudah tenggelam dengan
kesibukan kita masing-masing. Aku memakluminya. Toh, kita sekarang kita sudah
memiliki dunia kita masing-masing. Hidup, kan, terus berjalan. Nggak mungkin
kita akan stagnan dalam satu kondisi. Try to be realistic.
Joyeux
Anniversaire, La.
0 Reaksi Pembaca:
Posting Komentar