Kata orang cinta itu buta. Mungkin itu benar, mungkin juga tidak. Ada pula yang berkata bahwa cinta itu hanya memahami. Mungkin salah, mungkin juga tidak. Aku sendiri tak mengerti. Tapi akan terlalu naif bagiku jika aku berkata cinta itu BODOH. Itu hanya membuatku terlihat siapa sesungguhnya si bodoh itu, meskipun ada yang lebih bodoh dari itu. Membuatku terlihat seolah-olah aku tak percaya apa yang mereka sebut CINTA.
Hahaha. Tertawalah denganku. Tertawalah yang keras tentang omong kosong yang baru saja ku ungkapkan. Aku hanyalah seorang yang sedang patah hati makanya aku berbicara seperti itu. Aku... Aku hanyalah seorang yang sedang sebegitu naifnya memendam patah itu dalam tawa. Dan aku juga adalah seorang yang pincang, yang membutuhkan penopang untuk berjalan. Malangnya, penopang sebelah kakiku itu telah hilang. Mungkin terambil oleh si pincang lain tanpa izinku. Atau mungkin aku lupa aku telah membuangnya, atau malah penopang itu pergi dengan sendirinya karena iba melihat kaki yang lebih pincang dariku. Hahaha!! Sekali lagi tertawalah denganku. Tertawalah bersama kemungkinan-kemungkinan yang tak pasti. Tertawalah, untuk apa terlalu bersedih.
Kemarilah. Aku punya selusin Whiskey yang bisa ku bagi denganmu. Bersulanglah denganku, jadilah teman bangsatku di sini. Temani aku menunggu penopangku kembali. Iya, aku sedang menunggunya kembali setelah ia selesai membantu si pincang yang lain. Hal lain apa yang bisa kulakukan selain menunggunya di sini. Aku sendiri hanya bisa terduduk diam. Lucunya, aku sendiri tak tahu pasti apakah ia benar akan kembali padaku atau tidak. Aku hanya akan tetap duduk disini menunggu dengan menggenggam harap. Apa yang salah dari sebuah penantian? Apakah sekarang aku terlihat lebih bodoh? Kau boleh saja menertawakanku saat ini karena ini memang lelucon. Sampai kau merasakan apa itu penantian tak bertuan.
Atau... sebagai seorang teman minum yang baik. Berdoalah kepada Tuhan untuk seorang pincang menyedihkan sepertiku ini. Berdoalah akan keajaiban agar si pincang ini, teman bangsatmu ini, tak lagi membutuhkan penopangnya, agar ia bisa berjalan. Lalu kau bisa mengajakku berlarian kemana pun kau mau. Kau tak mau kan mati bosan di sini menemaniku untuk sesuatu yang tidak tahu pasti? Atau bisakah kau menjadi pengganti penopangku yang telah hilang?
Kamis, 06 November 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Reaksi Pembaca:
Posting Komentar